Tradisi Pernikahan Chio Tao

Upacara Pernikahan Tradisional Peranakan Tionghoa “Chio Tao” Disadur dari https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150553841929892.388367.777069891&type=1&l=5dd1a67b9a Ditulis dan difoto oleh (Indonesia) Novi Chandra

Chio Tao berarti menata kepala atau menata rambut. Bagi sebagian masyarakat Tionghoa yang masih menjalani tradisi ini, upacara Chio Tao yang hanya boleh dilakukan sekali seumur hidup ini merupakan titik balik yang menandakan bahwa seseorang sudah dewasa dan sudah bisa hidup mandiri. Mereka yang tidak/belum melakukan upacara ini dianggap masih anak-anak dan belum dewasa.

Di dalam upacara Chio Tao, terdapat 13 tahap yang harus dilakukan:

1. Penghormatan di meja sam kai (leluhur) - Awal upacara, orang tua mempelai memasang lilin di meja sam kai, yang di atasnya terdapat gantang yang berisi beras beserta perangkat lainnya. Lilin bermakna agar terang dibawa di dalam keluarga. - Pemasangan dupa dilakukan oleh orang tua, memohon kepada Tuhan (Tian) agar upacara berjalan lancar. Setelah itu dilakukan penghormatan oleh tiga marga dan menuang arak ke bumi (tiam ciu, di Tangerang disebut gan ciu). - Selanjutnya pengantin memasang dupa di meja sam kai.


2. Penyisiran rambut - Pengantin duduk di atas kursi yang diletakkan di atas tampah. Naik tampah berarti pengantin memasuki dunia baru, yakni dunia rumah tangga sehingga dia harus hidup mandiri. - Pengantin pria mengenakan kemeja dan celana putih, sedangkan pengantin perempuan mengenakan atasan putih dan bawahan kain onde (polkadot). - Pengantin rambutnya disisir oleh adik bungsu, di mana penyisiran ditarik lurus sebanyak tiga kali. Saat menyisir, si adik mengucapkan harapan “Panjang jodoh, panjang umur, panjang rejeki”.


3. Pemberian uang pelita - Pengantin menerima uang pelita dari kedua orang tuanya, dengan maksud uang pelita ini digunakan untuk modal berdagang bagi keluarga baru. Dinamakan uang pelita karena pada masa lampau uang hasil berdagang digunakan untuk membeli lampu atau minyak kacang agar rumah tidak gelap di malam hari. - Uang pelita ini diletakkan orang tua di dalam gantang berisi beras yang terletak di hadapan anak pengantinnya yang menikah, kemudian pengantin saat diberi uang membalas dengan pai-pai (menghormat) mengepalkan tangan.


4. Pemakaian baju pengantin - Pengantin perempuan di kepalanya akan dipasang kembang goyang sebanyak 25 buah dan burung hong sebagai lambang putri raja. Hal ini dimaksudkan mempelai menjadi ratu sehari. Selain itu juga dipakaikan lagi penutup kepala 8 dewa (pa xian) yang melambangkan kesejahteraan dan panjang umur. - Selanjutnya pengantin perempuan dipasang kun (rok lipat) warna hijau dan baju merah. Aslinya kun hijau menutupi celana panjang. - Adapun pengantin pria dipakaikan busana pejabat negara jaman kekaisaran.


5. Pai Ciu - Orang tua memberikan ciu (arak beras) kepada anak agar anak berani menghadapi kehidupan dalam keluarga baru.


6. Makan 12 Mangkuk - Pengantin menghadapi hidangan dalam 12 mangkuk kecil. Ke-12 hidangan tersebut merupakan simbol adanya makanan setiap bulan sepanjang tahun, dan pasangan pengantin harus tabah menjalani kehidupan bersama dalam suka maupun duka. - Sebagai simbolik, pengantin memegang sepasang sumpit dan menyentuhkan sumpit itu ke setiap mangkuk, lalu sumpitnya disentuhkan ke mulut mempelai. - Ritual ini didampingi oleh adik laki-laki bungsu si mempelai (xiao shu atau paman kecil)


7. Makan nasi melek - Ritual ini dilakukan oleh orang tua mempelai, di mana ibu menyuapkan nasi kepada mempelai dan ayah menyuapkan minuman. Ini melambangkan suapan makan-minum yang terakhir kalinya dari orang tua karena tugas mereka sudah selesai


8. Pemasangan oto dan kerudung - Pengantin perempuan memakai oto (kantung yang diikat di perut) yang berisi buku tong shu, angpao, dan kue. Ini memiliki makna bahwa orang tua membekali anak perempuannya dengan pengetahuan dan penganan - Dilanjutkan dengan pemasangan kerudung hijau, yang dilambangkan sebagai pelepasan orang tua untuk diserahkan kepada pengantin lelaki


9. Sawer - Pengantin disawer oleh kedua orang tua berupa beras kuning dan uang logam. Ini bermakna orang tua menyebar benih kebaikan untuk masa depan pengantin agar mendapatkan berkah yang melimpah di dalam kehidupan yang baru


10. Sembahyang kawin - Pengantin melakukan sembahyang kawin dengan pemasangan dupa di meja sam kai untuk berterima kasih kepada Tuhan


11. Soja pengantin - Pengantin lelaki bersoja tiga kali menghormati pengantin perempuan yang dalam posisi duduk. Ini melambangkan niat baik dan penghormatan terhadap teman hidup - Dilanjutkan dengan membuka kerudung hijau yang dikenakan pengantin perempuan dengan cara menggulung kerudung hijau dari bawah ke atas menggunakan kipas yang dipegang oleh pengantin lelaki - Pengantin lelaki melepaskan oto yang terpasang pada pengantin perempuan, lalu melepaskan satu kembang goyang / tusuk konde. Pengantin perempuan membuka satu kancing baju pengantin lelaki. Hal ini sebagai lambang dimulainya kehidupan berumah tangga kedua pengantin


12. Suap-suapan pengantin - Pengantin saling memberikan suapan onde-onde, buah atap (kolang-kaling), kue lapis, dan agar-agar. Makna onde adalah kehidupan rukun, buah atap adalah mantap menapaki hidup, kue lapis adalah rejeki berlapis-lapis, agar-agar adalah perkawinan tetap segar


13. Teh pai - Kedua pengantin menyuguhkan teh kepada orang tua, yang dibalas dengan pemberian angpao sebagai bekal hidup. Prosesi pernikahan Chio Tao sudah selesai dilakukan.