Kelenteng Kim Tek Ie

Dalam lafal mandarin, nama Kelenteng ini adalah Jin De Yuan, juga disebut vihara Dharma Bhakti, merupakan kelenteng tertua di Jakarta, didirikan oleh seorang letnan Tionghoa Kwee Hoen (Guo Xun Gan) pada tahun 1650. Awalnya dinamai Koan Im Teng, yang artinya paviliun Kwan Im, sebagai penghormatan kepada dewi Kwan Im. Sayangnya kelenteng ini pernah hancur total setelah pembantaian orang Tionghoa 1740. Lima belas tahun kemudian dibangun kembali di tahun 1755 oleh kapiten Tionghoa bernama Oei Tjhie Lauw dan diberi nama Kim Tek Ie. Kata Kim Tek Ie yang berarti “Kelenteng Kebajikan Emas” mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialisme tetapi lebih mementingkan kebajikan antar manusia.

Walaupun sempat hancur, untungnya, desain asli kelenteng masih tetap dipertahankan dan beberapa benda di dalamnya tetap dipertahankan seperti dua buah bao gu shi (singa) yang menjaga di depan kelenteng dan tungku pembakar uang berasal dari Guangdong 1821, sedangkan altar di dalam kelenteng telah ada sejak tahun 1724, yang tersisa dari reruntuhan pembantaian Tionghoa di Batavia pada tahun 1740.

Kelenteng ini dahulunya berada di bawah pengelolaan Gong Guan atau "Dewan Opsir Tionghoa" Batavia, saat masih berjayanya institusi ini, bersama dengan Kelenteng Da Bo Gong - Ancol, Kelenteng Tanjung (telah musnah) dan Kelenteng Wan Ji Sie [Wan Kiap Si] - Jalan Lautze. Keempat kelenteng ini terkenal dengan sebutan "Empat Kelenteng Besar". Sekarang pengelolaan kelenteng ini berada di tangan yayasan vihara Dharma Bhakti.

Saat ini, Kelenteng Kim Tek Ie bukan saja terpelihara dengan baik sebagai tempat yang suci bagi pengikut Budhis Mahayana, bahkan kelenteng ini terus dipugar agar dapat terus menyamai kemegahannya seperti saat ia didirikan beberapa abad silam.

Keterangan mengenai kelenteng ini bisa dibaca di buku "Les Chinois de Jakarta: temples et vie collectives (1977)" karangan Claudine Salmon dan Denys Lombard, yang dikutip juga oleh Adolf Heuken SJ dalam Historical Sites of Jakarta (1989).